Selasa, 16 Januari 2018

THE STORY OF FULL MOON



Pemain: Ong Seongwoo
               Moon Lili (OC)
Genre :  Romance Fantasy
Rate    :  PG 13 (One Shoot)
            Gelap, sunyi, seperti biasa aku hanya menikmati suasana keheningan kampus dengan secangkir kopi hangat dan wifi kampus yang setia menemani mengerjakan tugas. Saat seperti inilah wifi benar-benar berfungsi dengan baik, karena hanya beberapa mahasiswa saja yang aktif di malam hari. Terutama mahasiswa semester akhir sepertiku, ah~ jika mengingat aku adalah mahasiswa semester akhir membuat kepalaku mau meledak karena skripsi yang tak kunjung selesai. Kapan sebenarnya semua penderitaan ini berakhir, aku lagi-lagi bertarung dengan diriku sendiri karena rasa muak dan malas yang bercampur. Godaan benar-benar banyak sekali saat mengerjakan skripsi.
Red Sun! cepatlah selesai wahai skripsi, aku sudah muak kepadamu. Begitulah umpatan hatiku setiap hari ketika aku menatap layar yang penuh tulisan seperrti semut yang berjajar, buku yang berserakan di atas bangku gazebo. Ah muak sekali dengan pemandangan yang sama setiap hari, kapan aku bisa mengalahkan diriku sendiri dan bertarung dengan waktu seperti ini? Aku benar-benar muak. Red Sun, Red Sun! Red Sun!! beberapa kali aku mengucapkan mantra sihir dalam hati dengan bodohnya dan berharap skripsiku selesai. Ternyata mantra bodoh itu tentunya tak akan membantuku, aku menutup notebookku dan mengemasi semua buku memasukkannya kedalam tas ransel hitamku. Akhirnya aku meninggalkan tempat itu.
Aku berjalan ke arah yang sama seperti biasanya, seperti de javu karena aku melakukannya berhari-hari. Seperti biasanya aku selalu berhenti sebentar di depan perpustakaan, bukan untuk mengembalikan buku pinjaman, namun untuk menatap salah satu gadis yang juga selalu berada di tempat yang sama, melakukan hal yang sama juga. Gadis itu selalu duduk di gazebo pojok yang benar-benar sepi, dengan mata yang sayu di balut kacamata. Gadis itu menatap notebooknya, dan sesekali gadis itu menatap mega merah. Apakah gadis itu juga mahasiswa semester akhir sepertiku? Sepertinya dia jauh lebih frustasi dari pada aku. Tiba-tiba gadis itu berjalan mendekatiku.
Cutter…Apa kamu punya Cutter?” entah kapan gadis itu tepat di depanku dan tanpa mengenalkan dirinya dia meminjam cutter seperti akan membunuh seseorang. “C..Cutter? Ah...aku tidak punya, ah sepertinya aku punya sebentar” entah kenapa aku tergagap seperti ketahuan memandangnya setiap kali aku melewati tempat itu, apa dia mengetahuinya ketika aku memandangnya setiap kali pulang? Memangnya aku bertindak cabul, aku hanya memandangnya saja. Aku membuka tasku dan mengambilkan cutter seperti permintaannya, dan memberikan cutter itu kepadanya. Tanpa sengaja ujung jariku bersentuhan dengan tangannya, kenapa tanganya dingin sekali? Apa dia sakit? Atau jangan-jangan dia gadis vampir seperti di di cerita webtoon itu hahaha, masih sempat saja aku berfikiran konyol di depan orang asing.
“Terima kasih, berikan hpmu.” Tiba-tiba gadis itu meminta hpku seperti seorang pencuri. Tadi dia meminta cutter dan sekarang dia meminta hpku, sejauh ini bukan seorang vampir tapi dia pencuri. Red Sun! seperti tersihir mantraku sendiri aku memberikan hpku tanpa berfikir panjang. Kemudian dia mengetikkan sesuatu di layar hpku dan menyodorkan kembali hpku. Tanpa berkata sepatah katapun gadis itu pergi meninggalkanku yang masih terdiam seperti orang yang terkena sihir. Apa yang baru saja terjadi sebenarnya? Akal fikiranku seperti dikendalikan gadis itu, dengan setengah sadar aku membaca tulisan yang dia tuliskan di memo hpku.
Temui aku di taman lili pukul enam sore’ hanya itu saja yang dia tuliskan, bukannya memberi nomor telfon tapi dia hanya memberi tahuku untuk datang ke taman lili dan lagi-lagi pukul enam sore, benar-benar gadis aneh. Entah kenapa bulu kudukku berdiri semua apakah karena cuaca dingin atau karena gadis itu yang membuat suhu tubuhku meningkat. Aku harus menemui gadis itu besok untuk menghapuskan rasa penasaran dan semua kejadian aneh yang aku alami selama ini. Apakah firasatku benar atau hanya pengaruh halusinasiku yang sangat besar. Semuanya masih menjadi misteri dan pertarungan dengan jiwaku sendiri.
Akhirnya hari ini datang, walaupun masih pagi aku segera menyelesaikan tugas skripsi yang perlu di ketik dan mengembalikan buku ke perpustakan. Setelah itu aku harus bergegas menemui gadis pukul enam itu dan menjawab rasa penasaranku. Sebelum mandi aku memilih baju untuk aku kenakan hari ini, entah kenapa aku terlalu memikirkan apa yang harus pakai hari ini. Aku menemui gadis itu bukan untuk kencan buta, tapi kenapa aku sibuk memilih baju hari. Ah sudahlah~ jangan terlalu memikirkan baju cepatlah mandi dan pergi ke perpustakaan, aku mencoba melawan kehendak diriku lagi dan pergi mandi.
Taman lili, sudah lama sekali aku tidak kesini. Banyak sekali orang yang bergandengan tangan, saling bersandar, mengusap rambut satu sama lain. Ah! Menyebalkan, kenapa gadis itu memintaku datang ke taman lili yang sudah jelas tempat orang-orang memadu kasih. Aku melihat kearah cahaya matahari yang sudah mulai menghilang dari bumi dan berganti dengan mega merah yang indah. Aku menundukkan pandanganku dan melihat gadis itu duduk di bangku dekat pohon rindang dan juga mengarahkan pandangannya kepada mega merah itu. Apakah ini de javu lagi? Kenapa dia selalu melakukan hal yang sama setiap kali aku memandangnya. Aku mendekati gadis itu yang berpakaian rapi dengan syal merah yang menutupi lehernya.
“Hai” ucapku canggung dan menjaga jarak darinya, walau bagaimanapun dia tetap orang asing bagiku karena hanya beberapa saat saja kami mengenal. Dia tidak menyapaku kembali, dia hanya mengarahkan pandangan yang dingin kepadaku. Aku hanya berdiri terpaku di depannya, gadis itupun tak memintaku duduk di dekatnya. Benar-benar situasi yang canggung, sebenarnya aku ingin duduk disampingnya namun aku takut jika tidak sopan karena ukuran bangku yang akan membuat kami saling berdekatan jika duduk bersama. Entah apa yang ada dipikiranku, aku duduk disampingnya seperti naluri yang terarahkan.
“Kenapa kamu datang?” gadis itu melontarkan kata yang penuh tanda tanya bagiku, bukannya dia yang menyuruhku datang dan mengambil cutter di taman lili. Tapi  kenapa dia malah seakan benci melihat kehadiranku dan membuatku seperti orang yang mengganggunya.
“Bukannya kamu yang menyuruhku datang? Mana cutterku?” Aku benar-benar kesal karena situasi ini, seakan-akan aku benar-benar mengganggunya. Tch! Bukannya seharusnya cowok yang menarik ulur situasi, benar-benar situasi yang membuatku kalah telak dan kesal.
“Bodoh! Ayo pergi” gadis itu tiba tiba menarik tanganku dan tanpa sadar aku juga menggenggam tanganya. Deg! apa yang gadis ini lakukan. Bahkan kami hanya sebatas orang asing yang baru saling mengucapkan satu dua patah kata. Aku membeku dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku melangkahkan kakiku mengikuti langkah kakinya. Tiba-tiba gadis itu menarikku masuk ke dalam sebuah gondola yang berada di dekat taman lili. Gondola ini berjalan diatas semua taman lili dengan di penuhi pasangan kekasih disetiap gondolanya, ini tambah membuat situasi menjadi canggung. Tapi aku hanya mengikuti langkahnya memasuki gondola itu, dengan tangan tetap saling mengenggam gadis itu menarikku untuk duduk disampingnya. Dan gadis itu melepaskan genggamannya.
Gadis itu memalingkan pandangannya pad ataman lili, menatapnya dengan penuh arti. Entah kenapa situasi menjadi menyedihkan ketika melihat gadis itu bersandar pada kaca gondola dan memandang keluar pada hamparan bunga lili. Ingin bertanya apa yang terjadi tapi situasi akan menjadi lebih canggung, ingin menepuk punggungnya tapi hubungan kami hanya sebatas orang asing. Ah apa yang harus aku lakukan dalam situasi ini.
“Ong~ Namaku Ong Seongwoo. Panggil saja ong” Tanpa sadar aku malah mengenalkan diriku kepadanya, Gadis itu menoleh kepadaku dengan pandangan dingin. Hanya beberapa saat saja, gadis itu lalu mengalihkan pandanganya lagi kepada hamparan bunga lili itu. Wah~ lagi lagi gadis ini berperan sangat pintar dalam tarik ulur, benar-benar membuatku sesak dan ingin marah.
“Aku sudah tahu, jadi jangan banyak bicara” Gadis itu dengan angkuhnya mengucapkan kata yang bahkan tak pernah kuduga. Lagi lagi posisiku seperti seorang pengganggu, sebenarnya apa yang gadis ini inginkan. Ingin rasanya melompat dari gondola karena situasi aneh ini.
“Hah? Terus kenapa kamu menyuruhku kesini? Hanya sebatas ingin mengembalikan cutter? Cepat berikan aku akan turun setelah gondolanya berhenti” Lagi lagi kemarahanku meluap tanpa aku sadari, aku benar-benar mengeluarkan isi hatiku. Semua yang aku rasakan, aku ucapkan begitu saja tanpa peduli maksud gadis aneh ini.
“Moon lili, panggil saja lili” gadis itu akhirnya memalingkan wajahku kehadapanku, kami berhadapan seperti ini membuat situasi semakin canggung ternyata. Lebih baik aku berbicara dengan punggungnya tanpa melihat wajahnya, jika begini aku tak sanggup mengumpat lagi. Tak lama kemudian gadis itu memalingkan wajahnya lagi ke hamparan bunga lili, gadis ini seperti mendengar apa kata hatiku. Benar-benar mengerikan
“Dahulu ayahku menamaiku lili karena ingin melihat anaknya kuat dan indah seperti bunga lili, Ayahku benar-benar menyukai mega merah karena kata ayahku mega merah lambang dari akhir perjalanan matahari yang indah dan berganti dengan rembulan yang kuat. Ayahku ingin melihatku seperti bunga lili dan rembulan yang indah dan kuat. Tapi ayahku ternyata berbohong, dia tidak menungguku menjadi bunga lili dewasa dan rembulan yang kuat. Dia meninggalkanku begitu cepat.” Tiba tiba gadis itu bercerita dengan panjangnya, membuat situasi semakin canggung sekali. Terlebih dia menceritakan hal yang sangat sensitif, apa yang harus aku lakukan. Gadis itu kembali memalingkan wajahnya menatapku, gadis itu semakin mendekatkan dirinya kepadaku.
“Aku akan menciummu, jika kamu tidak menginginkannya hindarilah” Belum sempat aku menjawab, gadis itu memojokkanku kearah kaca gondola, dan mendaratkan bibirnya ke bibirku. Gadis itu sedikit melumat ujung bibirku, dan tanpa bisa menolak aku hanya mengikuti apa yang gadis itu lakukan. Hanya berlangsung beberapa detik, gadis itu memundurkan wajahnya dan melihat keluar jendela gondola. Kami sudah sampai di ujung pemberhentian gondola ternyata, gadis itu turun mendahuluiku. Belum sempat aku turun dari gondola gadis itu menghadap kepadaku yang masih berada di dalam gondola.
“Karena kamu tidak menghindar berarti kamu menyukaiku, aku akan menunggu pesanmu” Hanya mengucapkan kata-kata itu, gadis itu meninggalkanku yang masih terpaku dengan kejadian yang baru saja terjadi. Seperti tersambar petir di siang hari, aku masih membeku ditempatku sendirian. Apa sebenarnya yang baru saja terjadi.
“Penumpang dimohon meninggalkan gondola dengan segera” Pengumuman itu membuatku tersadar kembali kepada dunia nyata. Aku melangkahkan kaki keluar gondola dan berjalan lunglai keluar dari taman lili. Deg! Deg! Deg! Jantungku benar-benar berpacu dengan cepat. Aku menunggu bis untuk pulang dan di dalam bis aku hanya bersandar pada kaca dan kejadian yang aku alami hari ini seperti klise yang terus berputar di dalam otak. Ah benar-benar gila, tapi aku juga menyukai semua hal yang terjadi hari ini. Sampai dirumah aku langsung mandi dan mengambil ponselku, benar sesuai dugaanku gadis itu tidak mengubungiku sama sekali. Aku memberanikan diri menghubunginya.
“Bisakah besok kita belajar bersama di perpustakaan jam 8 malam? Aku akan menunggumu” Aku mengirimkan pesan itu dengan memberanikan diri. Sampai kapan aku akan berada dalam tarik ulurnya. Bukankah hal aneh jika aku tak bertindak seperti selayaknya laki-laki. Aku terus memandangi layar hpku dan akhirnya pesanku dibalas. Tch! Gadis itu hanya menjawab dengan emoticon senyum.
“Ah~ Benar-benar menyebalkan, bagaimana dia bisa sepandai ini dalam bermain tarik ulur.” Aku hanya menggerutu karena gadis ini terus-terusan membuat jantungku berdetak cepat karena tarik ulurnya. Senang sekaligus sebal dalam satu waktu. Aku memutuskan menyiapkan baju untuk besok dan semua buku yang aku bawa besok, berharap jika besok aku akan bertindak seperti laki-laki yang seharusnya. Ah tolonglah biarkan aku memimpin, jangan buatku menjadi laki-laki yang payah.
Jam setengah delapan malam, aku berangkat menuju perpustakaan umum di dekat kampus yang selalu penuh dengan mahasiswa semester akhir. Aku membuka laptopku dan meneruskan pengerjaan skripsiku, aku sesekali melihat sekeliling untuk melihat gadis itu. Aku duduk di bangku yang disediakan untuk dua orang, tepat di ujung perpustakaan. Jam delapan lebih sepuluh belum juga datang gadis itu, aku sudah semakin muak mengerjakan skripsi ini tapi gadis itu belum juga datang. Aku membaca beberapa buku dan tiba tiba ada seseorang yang duduk disampingku.
“Maaf menunggu lama” suara lembut itu mengalihkan pandanganku dari buku, aku benar-benar tersentak dan sedikit menjauhkan badanku tubuhku ke ujung kursi yang aku duduki. Aku melihat gadis itu tersenyum dan mengeluarkan buku juga laptopnya. Satu jam, dua jam, waktu benar-benar berlalu dengan membosankan karena gadis itu benar-benar konsentrasi pada laptop dan buku tanpa melihatku sedikitpun, gadis ini benar-benar mempermainkanku atau bagaimana. Aku dengan bosannya menulis surat kecil dan aku letakkan di atas keyboard laptopnya saat dia sibuk membaca.
‘Aku tidak bisa konsentrasi dan hanya dapat memperhatikan bibirmu, tapi kamu hanya memperhatikan buku. Menyebalkan’ Gadis itu melihat catatan itu dan memandangku sambil mengernyitkan dahi, dia mengambil catatan itu dan membalasnya ‘Dasar Mesum’ dan meletakkannya di atas bukuku. Ah menyebalkan, bukannya dia yang mesum kenapa situasi menjadi terbalik sekarang. Bukannya dia yang menciumku dan mengajak berkencan, benar-benar aneh.
“Ayo pulang sudah larut sekali” Gadis itu membereskan bukunya dan memasukkannya kedalam tas. Akupun juga menurut dengan perintahnya dan memasukkan bukuku ke dalam tas. Gadis itu menarik tanganku kembali dan mengenggamnya dengan hangat sepanjang perpustakaan. Semua mata benar-benar melihat kami sepanjang perjalanan keluar dari perpustakaan, ah gadis ini benar-benar membuat jantungku tak berhenti berdetak dengan setiap tingkahnya. Gadis itu menuntunku keluar perpustakaan dan berhenti di depan supermarket dekat perpustakaan
“Aku benar-benar lelah, sepertinya kadar gulaku turun. Bisakah kita beli es krim coklat sebentar” Gadis itu benar benar terlihat lelah, dan aku hanya mengangguk mengikuti langkahnya menuju supermarket dengan tangan yang tetap bergandengan. Akhirnya dia melepaskan tanganku ketika memilih es krim, aku tidak suka es krim apalagi rasa coklat benar benar bukan seleraku. Gadis itu mengajakku duduk di depan supermarket dan aku duduk di sampingnya, aku hanya melihatnnya memakan es krim dengan lucunya. Dia seperti manusia biasa jika begini, rasanya ingin sekali mengusap lembut ujung kepalanya. Aku hanya memandanginya memakan es krim itu.
“Katanya tidak suka es krim, tapi kamu terlihat seperti sangat menginginkannya. Apa kamu mau?” Gadis itu menyodorkan es krimnya, tapi aku hanya menggelengkan kepala karena tingkah lucunya itu.

“Aku tidak suka es krim, apa lagi rasa coklat. Tapi jika kamu menawarkannya aku punya cara sendiri untuk menikmatinya” Aku mendekatkan wajahku kepada wajahnya, dan tubuh kami sangat berdekatan. Aku menciumnya dengan penuh hasrat seperti membalaskan dendamku kemarin, aku melumat beberapa kali bibirnya. Memeringkan ke kanan dan kekiri beberapa kali bibirku. Sepertinya es krim yang dia pegang juga sudah terjatuh, aku menggenggam tangannya dengan lembut. Perlahan aku menjauhkan wajahku dan melihat sesekali reaksinya, dia sepertinya sangat terkejut dengan tindakanku. Aku berdiri dan mengenggam tangannya, dia melangkah mengikuti langkahku. Akhirnya aku membalikkan keadaan seperti yang seharusnya, aku benar benar senang sekali.

“Ah menyenangkan” tiba tiba aku sedikit mengeraskan suaraku tanpa sadar dan melihat reaksi gadis itu yang hanya tersenyum lembut. Aku memandang tanganku yang bergandengan dengan tangannya, sesekali aku melihat wajahnya yang merona. Aku berhenti dipinggir jalan dan menusap ujung rambutnya.
“Jangan bertingkah aneh kepada laki-laki, kamu benar-benar pantas di hukum” Aku mengucapkan kata itu dengan mengusap usap kepalanya, aku memajukan wajahku dan mencium dahinya. Ah benar-benar hari yang indah, aku kembali meneruskan langkahku pulang dengan terus mengenggam tangannya.

THE END





Senin, 08 Januari 2018

KOSA KATA HANGUL DALAM LIRIK LAGU


BIG BANG – Let’s Not Falling in Love
사실 (sasil)                  : Sejujurnya                 두려운 (duryoun)       : Takut
약석 (yaksuk)             : Janji                           진심 (jinsim)               : Tulus
이기적인 (igi jokin)    : Egois                         아무것도 (amugotdo)            : Apapun
믿지 (midji)                : Percaya                      항상 (hangsang)          : Selalu
처음 (choum)              : Pertama                     부담 (budam)              : Beban
순수 (sunsu)                : Polos                         고민 (gomin)               : Masalah

TAEYON – I
준비 (junbi)     : bersiap                       기억 (giok)                  : Memori         
들어 (deuro)   : mendengar                (mut)                      : Tidak Dapat 
만날 (mannal) : bertemu                     (bwa)                      : Melihat
날게 (nalge)    : sayap                         (bij)                         : Cahaya
(gam)          : menutup                    멈춰 (momjwo)           : Berhenti

JYJ – In Heaven
거짓말 (gotjimal)        : bohong
상상 (sangsang)          : imajinasi
뭇해 (muthae)             : tidak dapat melakukan
기적 (giok)                  : keajaiban

EXO – Overdose
위험 (wihom)              : Berbahaya                 세상 (sesang)              : Dunia
중독 (jungdok)           : Surga                         이미 (imi)                    : Telah
빠져 (bbajyo)              : Jatuh                          필요 (piryo)                : Butuh
(yak)                       : Obat                          그녀 (geu nyo)            : Gadis Itu
게속 (gyesok)             : Tetap                         천국 (chonguk)           : Surga

INFINITE – Man In Love
모두 (modu)               : Semua                       쳔쳔히 (chonchonhi)  : Pelan-Pelan  
애기 (yegi)                  : Cerita                        고백 (gobek)               : Pengakuan
노래 (noure)                : Lagu                          처럼 (chorom)             : Seperti
영화 (younghwa)        : Film                           (gyeot)                    : sisi
어린 (orin)                  : Muda                        철대 (chyeolde)          : Tidak Pernah

SEVENTEEN – Very Nice
아침 (achim)               : Pagi                           정답 (jongdab)            : Benar
신발 (sinbal)               : Sepatu                       진지 (jinji)                   : Serius
아주 (aju)                    : Sangat                       반짝 (banjjak)             : Bersinar
맞아 (maja)                 : Benar                         느낌 (neukkim)           : Perasaan
긴장 (ginjang)             : Gugup

BEAST – Shadow
날씨 (nalsi)                 : Cuaca                        언제 (onje)                 : Kapan
항상 (hangsang)          : Selalu                        지워 (jiwo)                  : Menghapus
어서 (oso)                   : Cepat                         함께 (hamkke)            : Bersama
미소 (miso)                 : Senyuman                 기다려 (gidaryo)        : Menunggu
사라져 (sarajyo)         : Menghilang               그때 (geudae)             : Sejak
잊이 (iji)                      : Melupakan                (bul)                         : Api
(do)                        : Lebih                         역시 (yeoksi)              : Memang

BoA – Only One
어색 (osaek)                : Canggung                  기대 (gidae)                : Berharap
지금 (jigeum)              : Seakarang                  시작 (sijak)                 : Awal
논물 (nunmul)             : Air Mata                    멀어 (moro)                : Jauh
앉아 (anja)                  : Duduk                       이제 (ije)                     : Sekarang
가끔 (kakkeum)          : Jarang                        만들어 (mandeulo)     : Membuat
어디 (odi)                   : Dimana                      갑작 (gapjak)              : Tiba-Tiba
공허 (kongho)             : Kosong                      잘뭇 (jalmut)               : Salah
                          
BTS – I need U
땜에 (ddeume)            : Karena                       차가워 (chagawo)      : Dingin
망가져 (mangkajyo)   : Rusak                        심장 (simjang)            : Hati
안가 (anga)                 : Tidak Pergi                선물 (sonmul)             : Hadiah
이런 (iron)                  : Ini                              미쳐 (mijyo)                : Gila
미워 (miwo)                : Benci                         싫어 (sirho)                 : Benci
용서 (yongso)             : Memaafkan               필요 (piryo)                :Butuh
자꾸 (jakku)                : Terus                         바보 (babo)                 : Bodoh

RED VELVET – One of These Night
잘자 (jalja)                  : Selamat Tidur
시간 (sigan)                : Waktu                      
같은 (gateun)              : Sama
다시 (dasi)                  : Lagi
만나 (manna)              : Bertemu
슬픈 (seulpeun)           : Sedih
(byeol)                    : Bintang
순간 (sunggan)           : Momen
오래 (orae)                  : Lama

(bij)                         : Cahaya

Jumat, 05 Januari 2018

FULL MOON


Lagi, gadis itu hanya menatap nanar pada notebooknya. Gadis dengan mata sayu yang terbalut indah di balik dua kaca matanya. Dan lagi-lagi pukul enam sore tepat, tempat yang sama pula di gazebo paling ujung dengan dua pohon besar yang menjadikan tempat itu enggan di singgahi oleh kebanyakan orang. Gadis itu sesekali melihat pancaran mega merah yang menghiasi langit menandakan waktu telah berganti, menandakan sang mentari telah menyelesaiakan tugasnya dan berganti tugas dengan sang rembulan. Kenapa dengan gadis itu yang selalu menantikan sesuatu di tempat yang suram seperti itu? Apakah dia vampir yang menunggu bulan purnama datang?
Perlahan gadis itu mengangkat kakinya dengan sangat malas, dengan wajah yang menunjukkan ekspresi yang sangat dingin. Gadis itu melangkah perlahan melangkahkan kakinya dengan lebih cepat dan akhirnya gadis itu berlari menghampiriku. Deg! dia menghampiriku seakan aku mangsanya, kenapa sebenarnya dia tiba-tiba berlari menghampiriku. Kami sama sekali tak pernah berkenalan sebelumnya. “Apa kamu punya cutter?
 “Cutter? Ah..Cutter..A..da..Tidak aku tidak punya” Aku terbelalak dengan pertanyaan nya yang sangat tiba-tiba dan membuatku terbata-bata saat menjawab. Kenapa dia meminjam cutter? Benarkah dia vampir? Apakah aku mangsa selanjutnya? Siapa sebenarnya gadis itu? Aku hanya menatapnya dan sesekali memalingkan wajah mencari beberapa kehidupan di sekitar. Apakah tidak ada orang selain kami disitu, seakan berada di dunia yang jauh dari kehidupan aku sangat sesak seperti ada yang mencekik leherku. Seluruh tubuhku gemetar karena tatapan matanya yang nanar seakan meminta seluruh darahku untuk dihisap. Tiba-tiba gadis itu meraih tanganku.
“Moon, namaku moon. Kamu harus mengingatnya, namaku moon” Aku terperanjat saat gadis itu meraih tanganku aku langsung membuang tangannya saat dia menyalami tanganku dengan sangat dingin lebih lagi saat dia mengatakan bahwa namanya moon. Tangannya benar-benar dingin seperti es, Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia memintaku untuk mengingat namanya? Apakah dia benar-benar vampir? Seluruh tubuhku kaku, aku tak bisa menggerakkan kakiku, berteriakpun tak mampu. Aku berharap bahwa aku menghilang dari dunia, mata tajam itu terus melihatku dengan penuh harap. Apa sebenarnya yang dia harapkan dariku? Apakah dia benar-benar menginginkan darahku?

Mereka selalu bercerita bahwa gadis vampir selalu muncul saat mega merah mengilang
Mereka selalu bilang bahwa gadis itu selalu muncul pada saat bulan purnama
Mereka selalu bilang bahwa gadis vampir itu hanya muncul di hadapan mangsanya
Dan gadis itu, gadis vampir itu menghampiriku
Apakah kisah konyol yang mereka ceritakan benar adanya?

Apakah dia benar-benar gadis vampir?